Jumat, 26 Desember 2014

Analisa Laporan Keuangan


BAB I
PENDAHULUAN


Laporan keuangan merupakan hasil akhir dari proses akuntansi yang memberikan gambaran tentang keadaan posisi keuangan, hasil usaha, serta perubahan dalam posisi keuangan suatu perusahaan. Laporan keuangan juga merupakan kesimpulan dari pencatatan transaksi yang dilakukan oleh suatu perusahaan. Laporan keuangan adalah media yang paling penting untuk menilai kondisi ekonomi dan prestasi manajemen.Laporan keuangan disusun berdasarkan Standar Akuntansi Keuangan  (SAK) yang telah ditetapkan oleh Ikatan Akuntan Indonesia (IAI). SAK memberikan fleksibilitas bagi manajemen dalam memilih metode maupun estimasi akuntansi yang dapat digunakan. Wardhani (2008) menyatakan fleksibilitas tersebut akan mempengaruhi perilaku manajer dalam melakukan pencatatan akuntansi dan pelaporan transaksi keuangan perusahaan.
Dalam rangka membantu pengguna laporan keuangan, dalam memahami dan menginterpretasikan laporan keuangan maka perlu dibuat analisis laporan keuangan. Analisis laporan keuangan dimaksudkan untuk membantu bagaimana memahami laporan keuangan, bagaimana menafsirkan angka-angka dalam laporan keuangan, bagaimana mengevaluasi laporan keuangan dan bagaimana menggunakan informasi keuangan untuk pengambilan keputusan. Teknik analisis yang sering digunakan dalam menganalisis laporan keuangan adalah analisis rasio. Analisis rasio adalah teknik analisis untuk mengetahui hubungan matematis dari pos-pos tertentu dalam setiap elemenlaporan keuangan. Hasil dari perhitungan rasio akan dibandingkan dengan tahun sebelumnya, agar dapat diketahui perubahan yang terjadi, apakah mengalami kenaikan atau penurunan.
        Analisis laporan keuangan menggunakan perhitungan rasio-rasio agar dapat mengevaluasi keadaan finansial perusahaan dimasa lalu, sekarang, dan masa yang akan datang. Rasio dapat dihitung berdasarkan sumber datanya yang terdiri dari rasio-rasio neraca yaitu rasio yang disusun dari data yang berasal dari neraca, rasio-rasio laporan laba-rugi yang disusun dari data yang berasal dari perhitungan laba-rugi, dan rasio-rasio antar laporan yang disusun  berasal dari data neraca dan laporan laba-rugi. Laporan keuangan perlu disusun untuk mengetahui apakah kinerja perusahaan tersebut meningkat atau bahkan menurun dan didalam menganalisis laporan keuangan diperlukan alat analisis keuangan, salah satunya adalah dengan menggunakan rasio-rasio keuangan. Rasio keuangan tersebut meliputi rasio likuiditas, rasio solvabilitas (leverage), rasio aktivitas, rasio profitabilitas, dan rasio pertumbuhan.
Diharapkan dengan analisis ini dapat diketahui gambaran keadaan keuangan perusahaan, sehingga interpretasi pengguna laporan terhadap laporan keuangan dapat menjadi bahan pertimbangan dalam pengambilan keputusan,terutama bagi direktur dalam rangka menetapkan kebijakan, menyusun rencana yang lebih baik, serta menentukan kebijaksanaan yang lebih tepat agar prestasi manajemen semakin baik pada tahun-tahun berikutnya.


 BAB II
PEMBAHASAN

A.      LAPORAN KEUANGAN

1.      Pengertian Laporan Keuangan
·         Laporan keuangan merupakan data akuntansi yang dapat memberikan informasi yang relevan bagi investor, kreditur atau pihak lain dengan mengambil keputusan ekonomi.
·         Laporan keuangan adalah sebuah laporan yang diterbitkan oleh perusahaan bagi pemakai laporan keuangan. Laporan ini memuat laporan keuangan dasar dan juga analisis manajemen atas operasi tahun lalu dan pendapat mengenai prospek-prospek perusahaan di masa yang akan datang.

2.      Bagian-bagian Laporan Keuangan

Bagian-bagian dari laporan keuangan meliputi :
·         Neraca (Balance Sheet), menyajikan aktiva pada sisi sebelah kiri,yang merupakan alokasi dari dana,kewajiban dan ekuitas pada sebelah kanan yang merupakan sumber dana perusahaan.
·         Laporan Laba Rugi (Income Statement), Laporan yang mengikhtisarkan pendapatan dan pengeluaran perusahaan selama satu periode akuntansi,biasanya setiap satu kuartal atau satu tahun.
·         Laporan Laba Ditahan (Statement ofShareholders Equity), menyajikan perubahan-perubahan pada pos-pos ekuitas untuk mengidentifikasi alasan perubahan klaim pemegang ekuitas atas aktivanya.
·         Laporan Arus Kas (Statement of Cash Flow), Tujuan dari pembuatan laporan arus kas ini adalah:
a.       Memberikan informasi mengenai penerimaan dan pembayaran kas perusahaan selama periode tertentu.
b.      Memberikan informasi mengenai efek kas dari tiga kategori aktivitas yaitu aktivitas investasi,aktivitas pendanaan,aktivitas operasi.

3.      Tujuan Laporan Keuangan

APB Statement No.4 berjudul Basic Concepts and Accounting Principles Underlying Financial Statements Business Enterprises. Laporan ini bersifat deskriptif, dan laporan ini banyak mempengaruhi studi-studi berikutnya tentang tujuan laporan keuangan. Dalam laporan ini, tujuan laporan keuangan di golongkan sebagai berikut :
·         Tujuan Khusus
Tujuan khusus laporan keuangan adalah untuk menyajikan laporan posisi keuangan, hasil usaha, dan perubahan posisi keuangan lainnya secara wajar sesuai dengan GAAP
·         Tujuan Umum
Ø  Memberikan informasi yang terpercaya tentang sumber-sumber ekonomi, dan kewajiban perusahaan
Ø  Kekayaan bersih yang berasal dari kegiatan usaha dalam mencari laba
Ø  Menaksir informasi keuangan yang dapat digunakan untuk menaksir potensi perusahaan dalam menghasilkan laba
Ø  Memberikan informasi yang diperlukan lainnya tentang perubahan harta dan kewajiban
Ø  Mengungkapkan informasi relevan lainnyayang dibutuhkan para pemakai laporan.
·         Tujuan Kualitatif
Ø  Relevance: Memilih informasi yang benar-benar sesuai dan dapat membantu pemakai laporan dalam pengambilan keputusan.
Ø  Understanability: Informasi yang dipilih untuk disajkan bukan saja penting tetapi juga harus informasi yang di mengerti pemakai
Ø  Verifiability : Hasil akuntansi harus dapat di periksa oleh pihak lain yang akan menghasilkan pendapat yang sama.
Ø  Neutrality : Laporan akuntansi harus bersikap netral terhadap pihak-pihak yang berkepentingan.
Ø  Timelines: Laporan akuntansi hanya bermanfaat untuk pengambilaan keputusan apabila diserahkan pada saat yang tepat.
Ø  Comparability: Informasi akuntansi harus dapat saling dibandingkan,artinya akuntansi harus memiliki prinsip yang sama baik untuk suatu perusahaan maupun perusahaan lain.
Ø  Completeness: Informasi akuntansi yang dilaporkan harus mencakup semua kebutuhan yang layak dari para pemakai

4.      Pengguna Laporan Keuangan Dan Tujuan Penggunaannya

·         Investor : Penanam modal dan penasihat mereka berkepentingan dengan risiko yang melekat serta hasil pengembangan dari investasi yang mereka lakukan. Mereka membutuhkan informasi untuk membantu menentukan apakah harus membeli, menahan, atau menjual investasi tersebut. Pemegang saham juga tertarik pada informasi yang memungkinkan mereka untuk menilai kemampuan perusahaan untuk membayar dividen.
·         Karyawan : Karyawan dan kelompok yang mewakili merekatertarik pada informasi mengenai stabilitas dan profitabilitas perusahaan, juga tertarik dengan informasi untuk menilai kemampuan perusahaan dalam memberikan balas jasa, imbalan pasca kerja dan kesempatan kerja.
·         Pemberi pinjaman : Pemberi pinjaman tertarik dengan informasi keuangan yang memungkinkan mereka untuk memutuskan apakah pinjaman serta bunganya dapat dibayar pada saat jatuh tempo.
·         Pemasok dan kreditor usaha lainnya : Pemasok dan kreditor usaha lainnya tertarik dengan informasi yang memungkinkan mereka untuk memutuskan apakah jumlah yang kewajibannya akan dibayar pada saat jatuh tempo. Kreditor berkepentingan pada perusahaan dalam tenggang waktu yang lebih pendek daripada pemberi pinjaman kecuali kalau sebagai pelanggan utama rnereka bergantung pada kelangsungan hidup perusahaan.
·         Stakeholders (para pemegang saham) : Para pemegang saham berkepentingan dengan informasi mengenai kemajuan perusahaan, pembagian keuntungan yang diperoleh dan penambahan modal untuk business plan selanjutnya.
·         Pelanggan : Para pelanggan berkepentingan dengan informasi mengenai kelangsungan hidup perusahaan, terutama kalau mereka terlibat dalam perjanjian jangka panjang dengan, atau bergantung pada perusahaan.
·         Pemerintah : Pemerintah dan berbagai lembaga yang berada dibawah kekuasaannya berkepentingan dengan alokasi sumberdaya dan karena itu berkepentingan dengan aktivitas perusahaan. Mereka juga membutuhkan informasi untuk mengatur aktivitas perusahan, menetapkan kebijakan pajak, dan sebagai dasar menyusun statistik pendapatan nasional dan statistik lainnya.
·         Masyarakat : Perusahaan mempengaruhi anggota masyarakat dalam berbagai cara. Misalnya: perusahaan dapat memberikan kontribusi berarti pada perekonomian nasional, termasuk jumlah orang yang dipekerjakan dan perlindungan kepada penanam modal domestik. Laporan keuangan dapat membantu masyarakat dengan menyediakan informasi kecenderungan (trend) dan perkembangan terakhir kemakmuran perusahaan dan rangkaian aktivitasnya.

5.      Jenis Laporan Keuangan

Dua jenis laporan keuangan utama yang umumnya dibuat oleh setiap perusahaan adalah neraca dan laporan laba rugi.
Neraca adalah laporan keuangan yang secara sistematis menyajikan posisi keuangan perusahaan pada suatu saat tertentu. Neraca juga berarti suatu laporan yang sistematis tentang Aktiva (assets), Utang (liabilities), dan Modal Sendiri (owner’s equity).
Laporan laba rugi melaporkan seluruh hasil dan biaya untuk mendapatkan hasil, dan laba (rugi) perusahaan selama suatu periode tertentu.

6.      Macam-macam Analisis Laporan Keuangan

Analisis Time Series dan Cross Sectional
·         Analisis Trend atau time series adalah Analisis rasio perusahaan untuk beberapa periode. Membandingkan rasio sekarang (present ratio) dengan rasio-rasio dari waktu yang lalu (rasio historis) atau dengan rasio-rasio yang diperkirakan untuk waktu-waktu yang akan datang pada perusahaan yang sama. Analisis trend dapat melihat apakah prestasi perusahaan itu meningkat atau menurun selama periode tertentu, mengestimasi kemungkinan terjadi peningkatan atau penurunan pada kondisi keuangan tertentu.
·         Analisis Cross Sectional, adalah Analisis membandingkan rasio-rasio perusahaan (company ratio) dengan rata-rata rasio perusahaan sejenis atau industri (rasio rata-rata/rasio standard) untuk waktu yang sama.
Analisis Commond Size dan Analisis Index
·         Analisis Commond Size, Untuk membuat perbandingan elemen-elemen laporan keuangan dengan command base-nya. Laporan keuangan neraca pada sisi aktiva didasarkan pada total aktiva sehingga total aktiva sama dengan 100%. Elemen-elemen lain dari aktiva dibandingkan dengan total aktiva. Elemen-elemen kewajiban dan modal sendiri didasarkan pada total kewajiban dan modal sendiri. Laporan laba rugi commond base-nya penjualan, elemen-elemen laporan laba rugi dibandingkan dengan penjualan.
·         Analisis Index, Memilih tahun dasar sebagai commond base-nya elemen-elemen laporan keuangan pada periode lain dibandingkan dengan elemen-elemen laporan keuangan yang sama dengan tahun dasar tersebut.

B.     Analisa Laporan Keuangan Perusahaan

 
 
 
 
 
 

  
Cara Menganalisis Laporan Keuangan Perusahaan

·         Current Ratio (CR)
Current Ratio merupakan rasio likuiditas. Current Ratio yaitu kemampuan untuk membayar hutang yang harus dipenuhi dengan aktiva lancar. Rasio ini paling sering digunakan untuk mengukur kemampuan membayar hutang jangka pendek total, karena mununjukkan seberapa besar tuntutan kreditur jangka pendek yang dapat dipenuhi oleh aktiva yang diharapkan dapat menjadi kas dalam periode yang hampir sama dengan masa jatuh tempo tuntutan tersebut (Murti, 2011).
Aktiva lancar yang dimaksud terdiri dari kas, surat berharga, piutang dagang, dan persediaan sedangkan kewajiban lancar terdiri dari utang dagang, wesel bayar jangka pendek ; utang jangka panjang yang akan jatuh tempo dalam waktu satu tahun, pajak penghasilan yang terutang, dan beban-beban lain yang terutang (terutama gaji dan upah).
Semakin tinggi current ratio berarti semakin besar kemampuan perusahaan untuk memenuhi kewajiban finansial jangka pendek (Sartono, 2001).  CR merupakan perbandingan antara aktiva lancar dengan hutang lancar. CR dapat dihitung dengan formula sebagai berikut : (Prastowo, 2011)
 

Current ratio yang rendah biasanya dianggap menunjukkan terjadinya masalah dalam likuiditas dan sebaliknya jika perusahaan yang current ratio-nya terlalu tinggi juga kurang bagus, karena menunjukkan banyaknya dana yang menganggur pada akhirnya dapat mengurangi kemampuan laba perusahaan (Murti, 2011). Current ratio yang tinggi bisa disebabkan oleh kondisi perdagangan yang kurang baik atau manajemen yang jelek. Dalam masa resesi pihak manajemen mungkin enggan mengganti barangnya. Dengan demikian, persediaan barang dan utang dagang ditekan sampai tingkat yang paling rendah, atau saldo piutang yang terlalu besar karena adanya kebijakan kredit dan penagihan yang kurang efektif.
Pada PT. Indomobil Sukses Internasional Tbk, di tahun 2012 diketahui sebagai berikut :
 

Artinya, setiap Rp.1 hutang lancar yang segera jatuh tempo, dijamin oleh 1,23 Rupiah aset lancar.

·         Return on Assets (ROA)
Return on assets merupakan rasio profitabilitas. Return on assets juga sering disebut sebagai Return on Investment (ROI). Return on Assets mengukur kemampuan perusahaan dalam memanfaatkan aktivanya untuk memperoleh laba. Rasio ini mengukur tingkat kembalian investasi yang telah dilakukan oleh perusahaan dengan menggunakan seluruh dana (aktiva) yang dimilikinya dan dapat dibandingkan dengan tingkat bunga bank yang berlaku (Prastowo, 2011).
Return on Assets (ROA) atau sering disebut Return on Investment (ROI).  ROI merupakan salah satu bentuk rasio profitabilitas yang digunakan untuk mengukur kemampuan perusahaan dalam menghasilkan keuntungan dibandingkan dengan keseluruhan dana yang ditanamkan dalam aktiva yang digunakan untuk operasional perusahaan (Sunardi, 2010). Dengan demikian, rasio ini membandingkan keuntungan yang diperoleh dari sebuah kegiatan operasi perusahaan (net operating income) dengan jumlah investasi atau aktiva (net operating assets) yang digunakan untuk menghasilkan keuntungan tersebut.
ROA dapat dihitung dengan formula sebagai berikut : (Sartono, 2001)
 

ROA mencerminkan kemampuan perusahaan dalam memperoleh laba bersih setelah pajak dan total asset yang digunakan untuk operasional perusahaan. Semakin tinggi rasio ini menunjukkan bahwa perusahaan semakin efektif dalam memanfaatkan aktiva untuk menghasilkan laba bersih setelah pajak (Stella, 2009). Hal ini akan menarik investor untuk memiliki saham perusahaan tersebut.
Pada PT. Indomobil Sukses InteRnasional Tbk, di tahun 2012 diketahui sebagai berikut :
 

Artinya, perusahaan berada pada zona aman. Karena, menurut surat ketetapan BI No.23/67/KEP/DIR nilai batas minimal ROA adalah 1%. Jika nilai ROA berada dibawah 1% maka perusahaan berada di zona tidak aman.

·         Debt to Equity Ratio (DER)
Debt to Equiy Ratio merupakan rasio solvabilitas atau financial leverage ratio yang menggambarkan kemampuan suatu perusahaan dalam memenuhi kewajiban jangka panjangnya (Prastowo, 2011). Semakin tinggi rasio ini maka semakin besar resiko yang dihadapi dan investor akan meminta tingkat keuntungan yang semakin tinggi dan rasio yang tinggi juga menunjukkan proporsi modal sendiri yang rendah untuk membiayai aktiva.
DER merupakan perbandingan antara total hutang yang dimiliki perusahaan dengan total ekuitasnya. DER dapat dihitung dengan formula sebagai berikut : (Sartono, 2001)
 

DER yang terlalu tinggi menunjukkan tingginya ketergantungan permodalan perusahaan terhadap pihak luar sehingga beban perusahaan juga semakin berat (Stella,2009). DER akan mempengaruhi kinerja perusahaan dan menyebabkan apresiasi dan depresiasi harga saham, DER yang terlalu tinggi mempunyai dampak buruk terhadap kinerja perusahaan, karena tingkat hutang yang semakin tinggi berarti beban bunga perusahaan akan semakin besar dan akan mengurangi keuntungan (Hernendiastoro, 2005).
Pada PT. Indomobil Sukses Internasional Tbk, di tahun 2012 diketahui sebagai berikut : 
 


Artinya, meski DER-nya cukup besar yaitu dengan total utang jangka pendek sebesar 7.963.486.975.807, namun total utang jangka panjang hanya sebesar 3.905.731.976.049 sehingga utang-utang tersebut masih dalam ketegori tidak berbahaya.

Pada buku The Investing Policy (TIP), penulis mengatakan bahwa batas kewajaran utang suatu perusahaan adalah maksimal tiga kali dari modalnya, atau DER-nya 300% dan dengan catatan utang-utang tersebut bukan merupakan utang ‘berbahaya’.


  
 BAB III
PENUTUP

Kesimpulan:

Laporan keuangan adalah sebuah laporan yang diterbitkan oleh perusahaan bagi pemakai laporan keuangan. Laporan ini memuat laporan keuangan dasar dan juga analisis manajemen atas operasi tahun lalu dan pendapat mengenai prospek-prospek perusahaan di masa yang akan datang.
Dari hasil laporan keuangan yang telah dilakukan, berikut adalah kesimpulan dari analisa yang menggunakan Current Ratio, Retrun on Assets dan Debt to Equity Ratio. PT. Indomobil Sukses Internasional Tbk memiliki nilai rasio yang baik. Dengan Current Rationya sebesar 1,23 yang artinya, setiap Rp.1 hutang lancar yang segera jatuh tempo, dijamin oleh 1,23 Rupiah aset lancar. Retrun on Assets sebesar 5% yang artinya, perusahaan berada pada zona aman. Karena, menurut surat ketetapan BI No.23/67/KEP/DIR nilai batas minimal ROA adalah 1%. Jika nilai ROA berada dibawah 1% maka perusahaan berada di zona tidak aman. Dan yang terakhir Debt to Equity Ratio sebesar 2,08 atau 208% yang artinya, meski DER-nya cukup besar yaitu dengan total utang jangka pendek sebesar 7.963.486.975.807, namun total utang jangka panjang hanya sebesar 3.905.731.976.049 sehingga utang-utang tersebut masih dalam ketegori tidak berbahaya.
Pada buku The Investing Policy (TIP), penulis mengatakan bahwa batas kewajaran utang suatu perusahaan adalah maksimal tiga kali dari modalnya, atau DER-nya 300% dan dengan catatan utang-utang tersebut bukan merupakan utang ‘berbahaya’. Dengan hasil analisis ini penulis dapat menyimpulkan bahwa analisis laporan keuangan dapat digunakan untuk menilai kinerja perusahaan, karena hasil dari analisis akan dapat menghilangkan situasi ketidakpastian dalam informasi sehingga keputusan yang diambil menjadi lebih tepat. Secara umum nilai rasio yang baik adalah nilai rasio yang memiliki nilai yang tinggi, akan tetapi nilai yang terlalu tinggi belum tentu mencerminkan nilai rasio yang baik, oleh karena itu pada dasarnya tidak ada yang optimum karena kondisi setiap perusahaan yang berbeda-beda, maka dalam melakukan analisis rasio diperlukan ketelitian sehingga tidak salah dalam menafsirkan hasil dari analisis atau kinerja suatu perusahaan.
Saran:
Berdasarkan perhitungan rasio keuangan PT. Indomobil Sukses Internasional Tbk ternyata rasio likuiditas akan sangat berpengaruh terhadap tingkat kesehatan keuangan, untuk mendapatkan tingkat kesehatan keuangan yang baik (sehat) maka harus memiliki tingkat rasio keuangan yang baik pula atau dapat membayar hutang yang harus dipenuhi dengan aktiva lancarnya. Maka dari itu untuk mendapat tingkat rasio keuangan yang tinggi hal yang harus dilakukan adalah mempertahankannya atau bahkan meningkatkannya lagi.

            Dengan tingkat likuiditas sehat tersebut hal yang mungkin terjadi adalah para investor akan mempertahankan investasinya pada perusahaan tersebut serta memberikan kepercayaan yang sangat besar pada perusahaan tersebut dan nantinya akan dapat memunculkan investor-investor baru yang ingin menanamkan modalnya di perusahaan tersebut.

Sumber: 
http://id.wikipedia.org/wiki/Analisis_keuangan

Selasa, 14 Oktober 2014

Laporan Keuangan



2. 1      Pengertian Laporan Keuangan

Laporan keuangan pada dasarnya adalah hasil dari proses akuntansi yang dapat digunakan sebagai alat untuk mengomunikasikan data keuangan atau aktivitas perusahaan kepada pihak-pihak yang berkepentingan. Pihak-pihak yang berkepentingan terhadap posisi keuangan maupun perkembangan perusahaan dibagi menjadi dua, yaitu pihak internal seperti manajemen perusahaan dan karyawan, dan yang kedua adalah pihak eksternal seperti pemegang saham, investor, kreditor, pemerintah, dan masyarakat. Sehingga dapat disimpulkan bahwa laporan keuangan merupakan alat informasi yang menghubungkan perusahaan dengan pihak-pihak yang berkepentingan, yang menunjukkan kondisi kesehatan keuangan perusahaan dan kinerja perusahaan.
Tujuan khusus laporan keuangan adalah menyajikan secara wajar dan sesuai dengan prinsip akuntansi yang berlaku umum mengenai posisi keuangan, hasil usaha dan perubahan lain dalam posisi keuangan. Sedangkan dalam Standar Akuntansi Keuangan dijelaskan tentang tujuan laporan keuangan yang isisnya: “Tujuan laporan keuangan adalah menyediakan informasi yang menyangkut posisi keuangan, kinerja, serta perubahan posisi keuangan suatu perusahaan yang bermanfaat bagi sejumlah besar pemakai dalam pengambilan keputusan ekonomi”.
Maka melalui laporan keuangan tersebut masing-masing pihak ekstern dapat memperoleh informasi keuangan yang bersangkutan dengan perusahaan tersebut. Informasi yang berguna tersebut misalnya tentang kemampuan perusahaan untuk melunasi hutang-hutang jangka pendek, kemampuan perusahaan dalam membayar bunga dan pokok pinjaman, serta keberhasilan perusahaan dalam meningkatkan besarnya modal sendiri, pihak-pihak yang bersangkutan tersebut antara lain adalah:
1.      Pimpinan Perusahaan Atau Manajemen
Manajemen sangat berkepentingan terhadap laporan keuangan dari perusahaan yang dipimpinnya untuk dapat mengetahui keadaan dan perkembangan finansial dari perusahaannya dan akan dapat diketahui hasil-hasil finansial yang telah dicapai di waktu lalu dan diwaktu-waktu yang sedang berjalan.
2.      Kreditur
Para kreditur berkepentingan terhadap laporan keuangan perusahaan untuk mengambil keputusan menerima atau menolak permintaan kredit dari suatu perusahaan dengan mengukur kemampuan perusahaan tersebut untuk membayar kembali hutang-hutangnya beserta beban-beban bunganya
3.      Investor
Para investor berkepentingan terhadap laporan keuangan suatu perusahaan dalam rangka penentuan kebijaksanaan penanaman modalnya. Bagi investor yang penting adalah tingkat pengembalian dari dana yang akan diinvestasikan dalam surat-surat berharga yang dikeluarkan oleh suatu perusahaan.
4.      Pemerintah
Pemerintah berkepentingan terhadap laporan keuangan untuk menentukan besarnya pajak yang dibebankan pada perusahaan atas laba yang dihasilkan.
5.      Pemasok
Pemasok berkepentingan terhadap laporan keuangan suatu perusahaan untuk dapat menilai apakah perusahaan tersebut mampu melunasi kewajibannya kepada setiap pemasok tepat pada waktunya.

2. 2      Bentuk-bentuk Laporan Keuangan
Dalam pengertian laporan keuangan diatas telah dijelaskan bahwa laporan keuangan yang lengkap biasanya meliputi neraca, laporan laba rugi, laporan perubahan posisi keuangan. karena analisa rasio menggunakan data keuangan yang diambil dari neraca dan laporan laba rugi perusahaan, maka ada baiknya dimulai dengan pengenalan atas laporan keuangan tersebut. Laporan keuangan yang disusun guna memberikan informasi bagi berbagai pihak yang terdiri dari :
1.      Neraca
Menggambarkan kondisi keuangan dari suatu perusahaan pada tanggal tertentu. Umumnya pada akhir tahun pada saat penutupan buku. Neraca ini memuat aktiva (harta kekayaan yang dimiliki perusahaan), hutang (kewajiban perusahaan untuk membayar dengan uang atau aktiva lain kepada pihak lain pada tanggal tertentu dimasa mendatang), dan modal (kelebihan aktiva diatas modal).
2.      Laporan Laba Rugi.
Laporan laba rugi memperlihatkan hasil yang diperoleh dari penjualan barang-barang atau jasa-jasa atau ongkos-ongkos yang timbul dalam peroses pencapaian hasil tersebut. Laporan ini juga memperlihatkan adanya pendapatan bersih atau kerugian bersih sebagai hasil dari operasi perusahaan selama periode tertentu (umumnya satu tahun), singkatnya, laporan ini merupakan laporan aktifitas dan hasil dari aktifitas tersebut atau merupakan ringkasan yang logis dari penghasilan dan biaya dari suatu perusahaan untuk periode tertentu.
3.      Laporan Bagian Laba Yang Ditahan
Laporan bagian laba yang ditahan digunakan dalam perusahaan yang berbentuk perseroaan, menunjukkan suatu analisa perubahan besarnya bagian laba yang ditahan selama jangka waktu tertentu, sedangkan laporan modal sendiri diperuntukkan bagi perusahaan perseorangan dan bentuk persekutuan, meringkaskan perubahan besarnya modal pemilik selama periode tertentu.
4.      Laporan Perubahan Posisi Keuangan
Laporan perubahan posisi keuangan memperlihatkan aliran modal kerja selama periode tertentu. Laporan ini memperlihatkan sumber-sumber dimana modal kerja telah diperoleh dan penggunaan atau pengeluaran modal kerja yang telah dilakukan selama jangka waktu tertentu.
5.      Laporan Arus Kas
Laporan arus kas memperlihatkan aliran kas selama periode tertentu. Laporan ini memperlihatkan aliran kas masuk dan aliran kas keluar selama jangka waktu tertentu.

Disamping laporan keuangan umum perlu juga disusun laporan keuangan lain untuk keperluan penetapan pajak yang harus disampaikan kepada Inspeksi Pajak untuk kepentingan pemerintah lainnya seperti Biro Pusat Statistik, Dinas Perindustrian, kantor Perdagangan, Departemen Tenaga Kerja, dan dinas lainnya diperlukan laporan-laporan lain yang bersifat khusus.
Menurut Ikatan Akuntansi Indonesia, laporan keuangan sebagai pertanggungjawaban kepada pihak eksternal yang harus disusun sedemikian rupa sehingga:
1.      Dapat memberikan informasi keuangan secara kuantitatif mengenai perusahaan tertentu, guna memenuhi keperluan para pemakai dalam mengambil keputusan.
2.      Dapat menyajikan informasi yang dapat dipercaya mengenai posisi keuangan dan perubahan-perubahan kekayaan bersih perusahaan.
3.      Dapat menyajikan informasi keuangan yang dapat membantu para pemakai dalam menaksir kemampuan memperoleh laba dari perusahaan.
4.      Dapat menyajikan informasi-informasi lain yang diperlukan mengenai perubahan-perubahan dalam harta dan kewajiban, serta mengungkapkan informasi lain yang sesuai dengan keperluan pemakai.
5.      Relevan
6.      Jelas dan dapat dimengerti
7.      Dapat diuji kebenarannya
8.      Mencerminkan keadaan perusahaan menurut waktunya secara tepat
9.      Dapat dibandingkan
10.  Lengkap
11.  Netral

2. 3      Kinerja Keuangan
Dalam kamus besar bahasa Indonesia, kinerja diartikan sebagai sesuatu yang dicapai, prestasi yang diperlihatkan, dan kemampuan kerja. Berkinerja yaitu berkemampuan dengan menggunakan tenaga.
Maksud kinerja keuangan menurut acuan diatas adalah kemampuan kerja manajemen yang dilihat dari sisi finansial atau dalam hal ini melihat dari laporan keuangan suatu perusahaan. Unsur yang berkaitan secara langsung dengan pengukuran kinerja perusahaan disajikan pada laporan keuangan yang disebut laporan laba rugi. Penghasilan bersih (laba) sering kali digunakan sebagai ukuran kinerja. Unsur yang langsung berkaitan dengan pengukuran penghasilan bersih ini adalah penghasilan (income) dan beban (expense).
Dengan menggunakan laporan keuangan sebagai informasi yang menyangkut posisi keuangan, kita dapat mengetahui kinerja dan perubahan posisi keuangan suatu perusahaan yang bermanfaat bagi sejumlah pemakai dan pengambilan keputusan ekonomi. Posisi kinerja keuangan perusahaan yang dipengaruhi oleh sumber daya yang dikendalikan, struktur keuangan, likuiditas, solvabilitas, serta kemampuan beradaptasi dengan perubahan lingkungan. Informasi menilai perubahan, terutama profitabilitas diperlukan untuk menilai peruhahan potensial sumber daya ekonomi yang mungkin dikendalikan dimasa depan, sehingga dapat memperediksi kapasitas perusahaan dalam menghasilkan kas serta untuk merumuskan efektifitas perusahaan dalam memanfaatkan tambahan sumber daya.

2. 4      Variabel Dalam Evaluasi Kinerja Keuangan.
Variabel-variabel yang digunakan untuk mengevaluasi kinerja keuangan suatu perusahaan, dalam hal ini industri semen adalah:

2.4.1. Aktiva
Aktiva adalah sumber ekonomi yang dimiliki perusahaan yang biasanya dinyatakan dalam suatu satuan mata uang. Jenis sumber-sumber ekonomi atau 1azim disebut harta perusahaan bisa bermacam-macam. Ada kekayaan berupa barang-barang berwujud seperti tanah, gedung, dan mesin. Adapula yang berupa tagihan yang didalam istilah akuntansi disebut piutang dagang, dan ada pula dalam bentuk pembayaran dimuka (uang muka) atas jasa-jasa tertentu yang baru akan diterima dimasa yang akan datang, seperti misalnya premi asuransi dibayar dimuka. Sementara dikatakan juga bahwa aktiva adalah sumber daya yang dikendalikan oleh perusahaan sebagai akibat dari peristiwa masa lalu yang diharapkan akan memberi manfaat ekonomi bagi perusahaan dimasa mendatang. Manfaat ekonomi dimasa depan yang berwujud dalam aktiva tetap adalah potensi aktiva tersebut untuk memberikan sumbangan, baik langsung maupun tidak langsung arus kas kepada perusahaan. Potensi ini dapat berbentuk sesuatu yang produktif dan merupakan bagian dari aktifitas operasional. Manfaat ekonomi digunakan dalam produksi barang dan jasa, ditukarkan dengan aktiva lain, digunakan untuk menyelesaikan kewajiban, atau dibagikan kepada pemilik perusahaan.
Aktiva perusahaan berasal dari transaksi atau peristiwa lain yang terjadi dimasa lalu, oleh karena itu transaksi atau peristiwa yang diharapkan dapat terjadi dimasa depan tidak dengan sendirinya memunculkan aktiva. Disamping itu ada hubungan erat antara terjadinya pengeluaran dan timbulnya aktiva, namun kedua peristiwa ini tidak perlu harus bersamaan untuk menentukan timbulnya suatu aktiva.

2.4.2. Kewajiban
Kewajiban merupakan hutang perusahaan pada masa kini yang timbul dari peristiwa masa lalu, yang penyelesaiannya diharapkan akan mengakibatkan arus keluar sumber daya perusahaan yang mengandung manfaat ekonomi. Kewajiban suatu perusahaan dapat diselesaikan dengan cara melakukan pembayaran kas, menyerahkan aktiva lain, memberi jasa, mengganti kewajiban dengan kewajiban lain, mengkonversi kewajiban menjadi ekuitas, atau dengan cara dihapuskan. Seperti halnya aktiva, kewajiban juga timbul dari transaksi atau peristiwa masa lalu. Perlu dibedakan antara kewajiban sekarang dan komitmen dimasa depan. Keputusan manajemen untuk membeli aktiva dimasa depan (komitmen) tidak dengan sendirinya menimbulkan kewajiban sekarang.

2.4.3. Ekuitas
Ekuitas adalah hak residual (residual interest) atas aktiva setelah dikurangi semua kewajiban (aktiva bersih). Dalam perseroan terbatas, setoran modal oleh pemegang saham, saldo laba ditahan, penyisihan saldo laba, dan penyisihan penyesuaian pemeliharaan modal dapat disajikan secara terpisah. Penyajian seperti ini berguna untuk mengidentifikasikan pembatasan hukum dan pembatasan lainnya terhadap kemampuan perusahaan untuk membagikan atau menggunakan ekuitas serta merefleksikan fakta bahwa berbagai pihak mempunyai hak yang berbeda. Jumlah ekuitas yang disajikan pada neraca tergantung pada pengukuran aktiva dan kewajiban.

2. 4.4. Penghasilan
Penghasilan adalah manfaat ekonomi selama satu periode akuntansi dalam bentuk pemasukan atau penambahan aktiva atau penurunan kewajiban yang mengakibatkan kenaikan ekuitas yang tidak berasal dari kontribusi (setoran) penanaman modal. Penghasilan meliputi pendapatan (Revenues) maupun keuntungan (gains). Pendapatan timbul dalam pelaksanaan aktivitas perusahaan yang biasa (normal) seperti penjualan, penghasilan jasa, bunga deviden, royalty dan sewa. Sedangkan keuntungan mencerminkan pos lainnya yang memenuhi defenisi penghasilan dan mungkin timbul atau tidak dalam pelaksanaan aktifitas perusahaan yang biasa. Penghasilan juga meliputi keuntungan yang belum direalisasi, misalnya kenaikan jumlah aktiva jangka panjang. Pada laporan laba rugi, keuntungan biasanya dicantumkan terpisah dan dilaporkan dalam jumlah bersih setelah dikurangi dengan beban yang bersangkutan. Selain dapat diterima dalam berbagai bentuk aktiva (piutang, barang dan jasa), penghasilan dapat juga berasal dari penyelesaian kewajiban, misalnya penyerahan barang untuk melunasi pinjaman.

2.4.5. Beban
Beban adalah penurunan manfaat ekonomi selama suatu periode akuntansi dalam bentuk arus keluar atau berkurangnya aktiva atau terjadinya kewajiban yang mengakibatkan penurunan ekuitas yang tidak menyangkut pembagian kepada penanaman modal. Beban mencakup kerugian (loss) maupun beban yang dalam pelaksanaan aktifitas perusahaan yang biasa. Beban yang timbul dari pelaksanaan aktifitas biasa ini meliputi antara lain beban pokok penjualan, gaji dan depresiasi, yang biasanya berbentuk arus keluar atau berkurangnya aktiva seperti kas, persediaan dan aktiva tetap.
Kerugian mencerminkan pos lainnya yang memenuhi definisi beban yang mungkin timbul atau tidak dalam pelaksanaan aktifitas perusahaan yang biasa. Kerugian ini dapat timbul dari bencana kebakaran, banjir maupun pelepasan aktiva tidak lancar. Definisi beban juga meliputi kerugian yang belum direalisasi misalnya kerugian karena selisih kurs valuta asing. Pada laporan laba rugi, kerugian biasanya dicantumkan terpisah dan dilaporkan dalam jumlah bersih setelah dikurangi dengan penghasilan yang bersangkutan.

2. 5      Pendekatan Dalam Mengukur Kinerja Keuangan
Dalam mengukur kinerja keuangan, digunakan analisis keuangan karena analisis keuangan melibatkan penilaian terhadap keuangan dimasa yang akan datang. Tujuannya adalah untuk menemukan kelemahan-kelemahan didalam kinerja keuangan perusahaan yang dapat menyebabkan masalah-masalah dimasa yang akan datang, dan untuk menentukan kekuatan-kekuatan yang dapat diandalkan.
Rasio keuangan merupakan alat utama dalam analisis keuangan, dikarenakan dapat dipergunakan untuk menjawab berbagai pertanyaan mengenai kesehatan keuangan perusahaan. Dalam hal ini dengan melihat laporan keuangan perusahaan yaitu neraca dan laporan laba rugi. Analisa laporan keuangan ini juga digunakan oleh manajemen untuk memonitor keadaan perusahaan dari satu periode ke periode lainnya. Adanya perubahan-perubahan yang tidak diharapkan akan segera diketahui, dan kemudian dicari langkah-langkah pemecahannya. Hal ini dapat diartikan bahwa perkembangan suatu perusahaan harus dibandingkan dengan masa lalunya. Setiap perkembangan yang tidak diinginkan harus segera diperbaiki dan diarahkan kepada tujuan yang telah ditetapkan semula. Dalam menggunakan rasio-rasio keuangan perlu diperhatikan beberapa hal antara lain:
1.      Sebuah rasio saja tidak dapat digunakan untuk menilai keseluruhan operasi yang telah dilakukan. Untuk menilai keadaan perusahaan secara keseluruhan, sejumlah rasio haruslah dinilai secara bersama-sama.
2.      Perbandingan yang dilakukan haruslah dari perusahaan yang sejenis dan pada saat yang sama.
3.      Sebaiknya perhitungan rasio keuangan didasarkan pada laporan keuangan yang sudah diaudit (diperiksa). Laporan keuangan yang belum diaudit masih diragukan kebenarannya, sehingga rasio-rasio yang dihitung juga kurang akurat.
4.      Yang sangat penting diperhatikan adalah bahwa pelaporan akuntansi yang digunakan harus sama.
Rasio keuangan atau Financial Ratio pada dasanya dapat dibagi dalam tiga kelompok, yaitu rasio likuiditas dan aktifitas, debt ratio, serta profitability ratio. Selain hal tersebut, juga diperlukan analisis mengenai rentabilitas.
Uraian berikut merupakan teori pendekatan atau tolok ukur dalam menilai kinerja keuangan suatu perusahaan.

2.5.1. Rasio Aktifitas.
Rasio aktifitas atau rasio efisiensi memberikan dasar bagi penilai mengenai efektifitas perusahaan dalam memanfaatkan sumber daya untuk mencetak angka penjualan. Hal ini dapat ditemukan pada tiap kategori aktiva yang diinvestasikan perusahaan. Rasio ini berkenaan dengan piutang dagang, persediaan, aktiva tetap dan total aktiva. Dengan kata lain rasio aktifitas menunjukan bagaimana sumber daya telah dimanfaatkan secara optimal, kemudian dengan cara membandingkan rasio aktifitas dengan standar industri, maka dapat diketahui tingkat efisiensi perusahaan dalam industri.



2.5.2. Rasio Profitabilitas
Profitabilitas adalah kemampuan perusahaan untuk memperoleh laba dalam hubungannya dengan penjualan, total aktiva maupun modal sendiri. Rasio profitabilitas membantu menjawab pertanyaan mengenai efektifitas manajemen perusahaan dalam menghasilkan keuntungan dari aktiva atau sumber penghasilan yang dipercayakan kepada mereka. Untuk kelangsungan hidupnya suatu perusahaan harus berada dalam keadaan menguntungkan atau profitable.

2.5.3. Rentabilitas
Rentabilitas suatu perusahaan menunjukkan perbandingan antara laba dengan aktiva atau modal yang menghasilkan laba tersebut. Atau dapat juga dikatakan bahwa rentabilitas adalah kemampuan suatu perusahaan untuk menghasilkan laba selama kurun waktu atau periode tertentu.

2.5.4. Rasio likuiditas
Likuiditas merupakan suatu indikator mengenai kemampuan suatu perusahaan untuk membayar semua kewajiban finansialnya. Likuiditas merupakan suatu indikator mengenai kemampuan perusahaan untuk membayar semua kewajiban financial jangka pendek pada saat jatuh tempo dengan menggunakan aktiva lancar yang tersedia. Likuiditas badan usaha berarti kemampuan perusahaan untuk dapat menyediakan alat-alat likuiditas sehingga dapat memenuhi kewajiban finansialnya pada saat ditagih.

2.5.5. Rasio Solvabilitas
Solvabilitas perusahaan menunjukkan perusahaan untuk memenuhi segala kewajiban finansialnya pada saat dilikuidasikan. Atau dengan kata lain solvabilitas merupakan kemampuan suatu perusahaan untuk membayar semua hutang-hutangnya baik hutang jangka pendek maupun hutang jangka panjang. Solvabilitas suatu perusahaan dapat dilihat dari neracanya. Suatu perusahaan dapat dikatakan solvabel apabila mempunyai aktiva atau kekayaan yang cukup untuk membayar hutang-hutangnya.




2. 6      Penilaian Kinerja Keuangan
Dalam menilai kinerja keuangan, suatu perusahaan menggunakan analisis rasio keuangan, angka-angka absolut atau rasio tidak akan memberikan arti apabila tidak dikomparasikan atau dibandingkan dengan angka lainnya. Oleh karena itu diperlukan suatu pedoman untuk dapat menentukan arti dari suatu rasio atau ukuran-ukuran lain yang dihitung. Salah satu acuan dalam membandingkan dan manilai angka-angka atau rasio adalah dengan menggunakan analisis deskriptif, perbandingan prestasi dan posisi keuangan. Dengan melihat kecendrungan angka-angka rasio tertentu dapat diperoleh gambaran apakah rasio-rasio tersebut cendrung naik, turun atau relatif konstan.


 Sumber:


Hery, S.E., M.Si. 2012. Mengenal & Memahami LAPORAN KEUANGAN. Penerbit: CAPS (Center of Academic Publishing Service), Yogyakarta.
Diposkan oleh Universitas Islam Indonesia pada 05 Agustus 2012 http://arsip.uii.ac.id/files/2012/08/05.2-bab-211.pdf
Harahap, Sofyan Syafri. 2008. Teori Akuntansi, Ed. Revisi 10. Jakarta: Rajawali Pers